Berani Memilih

Berani Memilih

Setelah ramai-ramai pelantikan Presiden, tentu sekarang sibuk pembentukan kabinet. Ini juga tak kalah “ramai”. Ada banyak yang menarik dari peristiwa seleksi menteri Kabinet Jokowi-Jusuf Kalla.

Awal sekali, dulunya, sempat muncul wacana perampingan dan tak ada bagi-bagi kursi. Ada yang meyakini bahwa kabinet Jokowi-JK akan jauh dari transaksi politik. Ada harapan besar terbentuknya Kabinet Kerja yang diisi oleh para profesional yang berintegritas. Kabinet yang ramah kerja, ramah pasar, dan dipercaya setia pada prinsip kerja keras.

Menjelang ujung pengumuman Kabinet, ada rekomendasi dari KPK tentang sejumlah nama. Ada nama-nama yang diberi catatan “merah” dan “kuning”. Kabarnya, yang masuk dalam kategori “merah” mempunyai potensi serius dalam masalah hukum. Presiden Jokowi memberikan reaksi positif. Itulah manfaatnya KPK dan PPATK, begitu katanya. Wapres JK “membela” yang masuk kategori “kuning”. Harus berpegang pada asas praduga tak bersalah. Ada pula yang menyindir: siapa yang sesungguhnya berwenang menyusun Kabinet? Ada pula yang menyarankan agar Presiden Jokowi tunda pengumuman Kabinet. Seleksi lebih teliti. Kabarnya juga ada Ketua Umum partai yang lebih memilih jabatannya setelah ada syarat non-aktif. Itulah sebagian warna-warni dinamika yang menyertai finalisasi penyusunan Kabinet.

Adalah tidak mudah menyusun Kabinet yang sempurna dan menggembirakan semua pihak. Karena itu terlalu mewah jika Presiden Jokowi –misalnya– berharap tidak ada yang kecewa. Malah saya menduga yang pertama kali “kecewa” adalah Jokowi-JK sendiri. Mengapa? Pasalnya tidak semua yang diharapkan dan dibayangkan dapat direalisasikan.

Menyusun Kabinet adalah seni memilih orang, kecakapan, tanggung jawab dan tim kerja. Setelah semua faktor dipertimbangkan, ada lagi soal kemantapan, keyakinan dan keberanian. Keberanian untuk memilih adalah bagian dari kesadaran kepemimpinan. Karena setelah itu, Presiden dan Wapres akan selalu bergumul dengan pilihan-pilihan.

Pilihan yang mudah sejatinya bukan pilihan. Yang disebut pilihan selalu menghajatkan cermat dan berani. Kalau sudah diyakini sebagai yang terbaik dari “situasi” yang ada, itulah pilihannya. Yang pasti jangan pilih Sengkuni. Hindari juga Durna. Berani tidak memilih yang bisa jadi Sengkuni adalah keberanian yang hebat. Pemimpin pastilah berani. Yang penakut bukan pemimpin. Juga yang pengecut. Biarkan yang penakut dan pengecut pergi bersama angin malam.

#BeraniMemilihHebat

Selamat #beranimemilih dan mulai bekerja Presiden Jokowi dan Wapres JK. Semoga bermanfaat. Semoga Allah selalu meridhoi perjalanan bangsa kita.

Catatan: Tulisan ini adalah kultwit @anasurbaningrum yang diposting ADMIN berdasarkan tulisan tangan Mas Anas yang dititipkan ke Penasihat Hukum sore kemarin.

Tinggalkan komentar