Berani Adil Hebat!

Berani Adil Hebat!

Selamat pagi. Pagi adalah doa, harapan, kesegaran semangat baru dan optimisme. Saya ingin menulis doa dan harapan saya menjelang putusan majelis hakim.

Sejak awal saya berharap diadili. Bukan dihakimi, apalagi dijaksai. Jelas tuntutan JPU semangatnya menjaksai. Melawan fakta-fakta hukum di persidangan. Tuntutan JPU sulit dibedakan dari ekspresi kepongahan dan kebencian. Kepongahan karena meremehkan dan melecehkan fakta-fakta persidangan. Kebencian karena dalam tuntutan sangat sempurna spirit “mutilasi politik”. Pokoknya harus mati. Bukan hanya mati, tetapi mati yang dicincang-cincang. Khawatir kalau hanya mati sekali, bisa bangkit lagi.

Mahkota tuntutan (politik) adalah pencabutan hak dipilih tanpa dasar yang masuk akal. Sudah seperti merasa ditugaskan sebagai malaikat pencabut nyawa. Lalu, siapa tuhannya?

Siapa yang dzalim kepada orang lain sejatinya sedang dzalim kepada dirinya sendiri. Setiap orang akan “ngunduh wohing pakarti”, memetik buah perbuatannya sendiri. Namun karena sedang musimnya, dzalim pun mendatangkan kemahsyuran dan tepuk tangan.

Tetapi, seperti lazimnya, musim berganti. Hidup mengalami “owah gingsir”, selalu berubah. Tidak ada yang abadi. Karena itu, “ojo dumeh”, jangan sombong dan pongah. Mentang-mentang memegang otoritas absolut. Jabatan, kekuasaan dan kewenangan itu “mung gaduhan”, hanya titipan. Ada ujungnya, ada akhirnya.

Penegakan hukum itu untuk keadilan. Bukan demi “metani alaning liyan”, mencari-cari kesalahan. Apalagi kalau untuk melayani pihak yang ingin “nabok nyilih tangan”, menampar dengan pinjam tangan. Jelas tidak adil. Kenapa “nabok nyilih tangan”? Karena ada orang kuat yang nulis SMS akan bikin perhitungan serius setelah pileg.

Ujungnya ada di palu Hakim. Fakta-fakta hukum dan kebenaran sudah diungkap di persidangan. Tinggal menunggu, apakah kebenaran akan bersenyawa dengan keadilan? Kita tunggu putusan hakim.

Harapan setiap orang adalah kebenaran di persidangan mewujud dalam putusan yang berkeadilan. Setiap kita hanya bisa berusaha. Ikhtiarlah yang diwajibkan. Selebihnya wilayah otoritas Gusti Allah. “Manungsa wiwenang ngupaya, tan wenang murba wisesa”. Manusia berwenang berusaha, tidak berwenang memutuskan.

Yang kita punya adalah hari ini. Esok hari adalah misteri. Bukan hanya misteri bagi terdakwa, melainkan bagi siapa saja. Waktu akhirnya akan menuntun ke alamat yang benar. “Becik ketitik, ala ketara”, kebaikan akan ketahuan, keburukan akan tampak. Termasuk akan ditampakkan apakah seorang justice collaborator itu layak, atau dipaksakan dengan tujuan tertentu. Putaran waktu akan memisahkan-membedakan antara “Pinokio” dengan justice collaborator.

Semoga Allah meberkati kita semua. Amin.

Tinggalkan komentar